Beberapa sinetron kita (seperti biasanya) sangat rajin mengangkat kisah yang menggambarkan mental masyarakat indonesia. Salah satunya yang dilukiskan secara gamblang (namun tersirat dan hanya orang-orang yang peka yang mampu menangkap esensinya) adalah orang miskin di kita selalu sombong dengan kemiskinannya.
Kebanyakan sinetron tersebut biasanya mengisahkan konflik antara si miskin dan si kaya, ditambah dengan intrik-intrik yang gak masuk akal sebagai penambah suspense. Nah, gue suka “kesal sendiri” kalo pas adegan si miskinnya marah-marah gak jelas pas si kaya selingkuh misalnya. Pake bilang “kita emang beda, kamu punya banyak harta dan aku tidak”, “udah deh, pegi aja, dia kan segolongan ma kamu, gak kayak gue”, bla bla bla gak abis-abis. Gak salah kalo kita masih terus “miskin”, lha pake bangga segala dengan atribut kemiskinan kita.
Negara yang pengen “maju”, dalam semua bidang, gue pikir kudu memprioritaskan “memajukan mental” masyarakatnya dulu ketimbang membangun pembangkit listrik tenaga nuklir. Kenapa? Karena, misalnya, biarpun udah ada sumber listrik abadi namun beresiko tinggi tersebut di tengah kita, kalo mental masyarakatnya masih kepikiran “kanapa gue kudu mayar listrik segini, sementara yang korupsi enak tuh bayar pake uang hasil korupnya”, kita gak bakal bisa mendayagunakan fasilitas tersebut dengan optimal. Kenapa ? karena yang ada hanya kecemburuan yang berlatar kesulitan hidup dan mencari uang buat makan (gue bilang mencari uang buat makan, karena kalo Cuma nyari makan seharusnya rakyat kita enak banget jika saja lebih kreatif). Terus ujungnya adalah meratapi kemiskinan dengan berapi-api, seolah dengan begitu kesenjangan yang tercipta bakal ilang berganti santunan dari si kaya. Capek deh…
Media massa SANGAT BERPERAN dalam pembentukan mental masyarakat. Gak perlu diragukan, waktu istirahat setelah nyari uang buat makan bagi masyarakat kita digunakan untuk “nonton tipi” selain hal-hal lain. Nah, cekoki saja mereka dengan tayangan penerbit kecemburuan sosial seperti sinetron-sinetron yang ada sekarang, maka yang bakal tercipta adalah mereka menumpuk kekecewaan mendalam kepada “orang kaya”, lalu pemerintah. Udah gitu, tinggal menunggu “kipas” datang, jadi deh revolusi gede-gedean buat menjungkalkan pemerintah. Tentu gak sesederhana itu, tapi “hayalan” gue tersebut juga gak bisa dikatakan mustahil terjadi. Apalagi yang kurang coba? kita punya bejibun provokator handal (mungkin juga dari kalangan mahasiswa sendiri yang masuk kategori “baca buku sepintas trus teriak-teriak dijalan”), masyarakat kita mudah diprovokasi terutama soal “perut, pemerintah masih aja belum meyakinkan dalam mensejahterakan rakyat, media massa hanya memikirkan untung dari produknya, kesempatan korupsi makin lebar dengan banyaknya lembaga yang mengajarkan ilmu praktis yang tak mengindahkan etika moral, dan lain-lain.
Pertanyaan terpenting adalah bagaimana agar hal tersebut gak kejadian?
Pertama, kita udah punya komisi penyiaran yang bertugas mengawasi apa aja yang diproduksi dan diyangkan di televisi. Nah, kalo kira-kira ada acara yang bertendensi mempengaruhi masyarakat kearah negatif, laporin aja. Tapi jangan lupa sertai dengan bukti kuat dan alasan jelas. Jangan asal cuap (kayak gue kali ye….)
Kedua, buat mahasiswa (kebetulan gue juga masih mahasiswa) yang sering diagungkan dengan title agent of change, jangan pernah capek menghasilkan pemikiran, tindakan dan karya yang berpihak kepada masyarakat secara nyata, bukan Cuma ngadain seminar di hotel atau gedung kegiatan mahasiswa yang masuknya aja kudu pake tiket. Penting buat dipikirin kalo sekaranglah saat untuk mengabdi, dengan apa yang kita bisa. Jangan pernah tergiur lulus S1 dengan IPK cum laude trus kerja dengan gaji segunung, tapi kampus lo masih berkeliaran pengemis dan anak jalanan (kayak kampus gue). Gak habis pikir deh gue gimana naifnya kita saat Cuma bersemangat mendemo pemerintah, semantara masyarakat lebih mengharapkan tindakan nyata. Contohnya? Tetangga kostan gue, yang sehari-hari jualan bakso, pernah bilang gini “ gak bisa a’, dijalan lagi rame ada mahasiswa demo, jalan jadi macet..” saat gue tanya kenapa gak jualan suatu hari. Gue tahu dia kecewa. Bukannya ngebantu bikin kegiatan berbasis ekonomi yang bisa secara riil meningkatkan kesejahteraan mereka, seperti yang dilakukan kampus tetangga gue. Pikirkan ada berapa banyak lagi tukang bakso lain seperti dia. Jadi, mulailah berpikir “apa yang bisa kita lakukan untuk msyarakat”, bukan “apa yang bisa kita demokan untuk masyarakat”.
Selanjutnya, boleh aja sedikit bermain kasar dengan pemerintah, tapi gue pikir pakailah cara-cara yang lebih masuk akal. Gak perlu merobohkan pagar kantor pemerintahan kok kalo’ pengen pemerintah bereaksi positif atas tuntutan kita, cukup dengan langkah diplomatis terukur. Seperti apa? Bikin acara temu muka (jika mungkin juga “temu hati”) dengan mereka, kemukakan tuntutan dengan jelas dan sopan, patuhi mufakat yang tercapai lalu lakukan mufakat tersebut. Tunjuk pihak ketiga, bisa LSM kredibel asing dan lain-lain, untuk mengawasi jalannya mufakat dilapangan jika perlu.
Terakhir, jangan lakukan langkah diatas jika kita hanya berkeinginan untuk sekedar hidup. Gue Cuma iseng nulis buat gue sendiri, yang pengen hidup dengan lebih hidup (mirip iklan ya….). dan gue udah kecewa banget ma temen-temen berlabel aktivis di kampus gue. Tapi jangan tanya apa gue sendiri udah gerak, karena gue Cuma bisa ikut seminar dan pelatihan ini itu sekarang, he he… gak men, becanda. Gue gak bisa ikut mereka, jadi gue gabung ma anak lain yang sepikiran ma gue. Hasilnya ? ada lah, lumayan biar kecil tapi temen-temen kita udah kebantu. Mudah-mudahan kita semua paham, negara ini butuh dewasa dengan manusia yang lahir untuk saling mendewasakan.