Arsip untuk Juli, 2007

26
Jul
07

Hari ini senja berbeda..

Tiap tahun, aku menyempatkan diri mengenang waktu yang telah lewat. Waktu yang tak terlupakan, masa yang tak tersilamkan oleh detik-detik nafasku.

Hari ini adalah hari istimewa tersebut. Tiap jam yang menghantui langkah dengan senyuman bunga itu. Dengan harum nafas memburu terbakar amarah dan rindu dalam.

Aku tak pernah sungguh-sungguh kuasa menghilangkan dia dari hidupku. Apa yang membuat seorang laki-laki bisa pergi tak terkembalikan ?

            Dahulu aku pernah mendengar cerita yang sekarang terjadi sama aku.

Seorang laki-laki saat bangun pagi melihat seekor elang nan cantik terbang melintasi kepalanya. Dia kemudian mengikuti sang elang kemanapun ia terbang, meninggalkan anak istri dan segala harta benda yang dia punyai. Saat telah meninggal dan sama-sama di akhirat, ia ditanya istrinya “kenapa kamu meninggalkan kami ?”. Jawab lelaki itu: “karena elangnya terus terbang.”

Aku telah menjadi pengikut elang. Aku menemukan seekor yang memikatku sedemikian rupa hingga tak ingat lagi apa yang telah dan akan kuperbuat. Aku telah hidup dalam bayang-bayang.

            Gashvi, elang itu. Tubuhnya memang tak lagi punya sayap gemerlapan seperti dulu. Kilau tajam tatapannya tak juga didekatku kini. Tapi bayangan terbangnya begitu mengikatku, teramat erat. Kadang akal sehatku mengatakan “ kamu akan terus hidup kedepan dengan benda-benda yang nyata, bukan bersama harum bunga yang tak berbentuk”. Ya, aku mengerti. Hanya saja bagiku wujud bunga gak lebih berarti dari harumnya. Jika kau mengingat kelopak kau akan segera melupakannya. Namun kalau wanginya yang terendap di hati, kau tak kan pernah kehilangan bentuknya.

            Hari ini, Gashvi berulang tahun ke sembilan belas. Ulang tahun keempat yang kurayakan sendiri disini. Tanpa tawanya, tidak senyumnya, apalagi tatap pedangnya. Hari terakhir aku melihatnya adalah saat rintik hujan mengiringi tubuhnya pergi. Kepergian yang kurasakan setimpal dengan kepergian Dhaya. Jauh dan suram. Seolah kabut menyelimutiku seketika tanpa memberi kesempatan membuka mata.

            Dengan bayangan Gashvi, aku merangkai hidup kini dan nanti. Aku tak menyesali kepergiannya. Kepergian Gashvi telah mengajarkan banyak hal berarti untukku. Dengan kehilangannya aku hidup, aku tak tahu apa yang terjadi jika sebaliknya. Hidup setelah kehilangan Gashvi kurasakan lebih penuh warna. Walaupun pelangi ditinggal enam bidadari, aku masih dan akan selamanya memiliki bidadari lainnya: semangat hidup yang ditinggalkan Gashvi untukku.

Happy Birthday Gashvi, where ever you are…..senja di tiap hari ku…

26
Jul
07

mencari desau

Bersamanya, gelas gak pernah setengah kosong. Merangkai waktu dengan tawa memang bukan cara yang baik untuk mengisi lembaran hidup. Tapi tanpa tawa itu, aku bahkan tak tahu apa yang akan ku isi di hidup singkat ini. Mimpi-mimpi kami rajut dengan berani. Setajam matanya yang ku kagumi karena seolah tak berkeduniaan. Yahhh…. Bagi kami mimpi haruslah bertujuan “nanti”, bukan berakhir di dunia ini seperti banyak yang dianjurkan pakar konseling memuakkan itu.

            Satu kesempatan, dia sempat bertanya “untuk apa hidup kamu, olis?”. Dalam gelap subuh dengan banyak orang di sekeliling kami, aku tak memiliki jawaban “penuh” untuknya saat itu. Sekarang, empat tahun kemudian, saat aku telah kehilangan tatap mata dari rajutan jarum itu, aku mulai menemukan jawaban. Aku hidup untuk kehilangan dia, untuk mengikhlaskan kami memang bukan untuk bersisian tubuh. Aku bahkan tak yakin dia berpikiran sama denganku. Tapi keyakinanku yang sekarang ini lah yang membuatku “hidup”. Bertemu dengan makhluk seindah dia adalah waktu-waktu terbaik dalam hidupku, tapi toh aku harus tetap “berjalan” biarpun dia telah menghilang. Satu-satunya yang kuanggap peninggalan terindahnya adalah, aku mesti menatap waktu di depan.

            Kadang, di sela kepadatan rutinitas yang menjemukan, dia hadir dalam bentuk senyuman sekilas di bibir perempuan lain. Kali itu pula aku merasa dilemparkan ke masa lalu, detik-detik hampa yang tak kuinginkan karena menyiksa pelan-pelan. Betapa aku bertekad menyingkirkan dia selamanya, dia masih punya kuasa sangat besar di jiwaku. Benda yang membuatku tak berdaya adalah foto kecil yang kutempelkan di casing CPU komputer. Mungkin sudah ribuan kali, sejak aku melihatnya pergi empat tahun lalu, aku berusaha membuangnya. Hanya sekali kertas itu kulemparkan lebih dari lima meter, sebelum kuambil lagi. Hhh, mungkin ini juga kutukan, atau aku yang mengutuk diri sendiri untuk tak menghapusnya. Yang kutahu, aku makin lelah.

26
Jul
07

kita masih harus banyak belajar

Beberapa sinetron kita (seperti biasanya) sangat rajin mengangkat kisah yang menggambarkan mental masyarakat indonesia. Salah satunya yang dilukiskan secara gamblang (namun tersirat dan hanya orang-orang yang peka yang mampu menangkap esensinya) adalah orang miskin di kita selalu sombong dengan kemiskinannya.

            Kebanyakan sinetron tersebut biasanya mengisahkan konflik antara si miskin dan si kaya, ditambah dengan intrik-intrik yang gak masuk akal sebagai penambah suspense. Nah, gue suka “kesal sendiri” kalo pas adegan si miskinnya marah-marah gak jelas pas si kaya selingkuh misalnya. Pake bilang “kita emang beda, kamu punya banyak harta dan aku tidak”, “udah deh, pegi aja, dia kan segolongan ma kamu, gak kayak gue”, bla bla bla gak abis-abis. Gak salah kalo kita masih terus “miskin”, lha pake bangga segala dengan atribut kemiskinan kita.

            Negara yang pengen “maju”, dalam semua bidang, gue pikir kudu memprioritaskan “memajukan mental” masyarakatnya dulu ketimbang membangun pembangkit listrik tenaga nuklir. Kenapa? Karena, misalnya, biarpun udah ada sumber listrik abadi namun beresiko tinggi tersebut di tengah kita, kalo mental masyarakatnya masih kepikiran “kanapa gue kudu mayar listrik segini, sementara yang korupsi enak tuh bayar pake uang hasil korupnya”, kita gak bakal bisa mendayagunakan fasilitas tersebut dengan optimal. Kenapa ? karena yang ada hanya kecemburuan yang berlatar kesulitan hidup dan mencari uang buat makan (gue bilang mencari uang buat makan, karena kalo Cuma nyari makan seharusnya rakyat kita enak banget jika saja lebih kreatif). Terus ujungnya adalah meratapi kemiskinan dengan berapi-api, seolah dengan begitu kesenjangan yang tercipta bakal ilang berganti santunan dari si kaya. Capek deh…

            Media massa SANGAT BERPERAN dalam pembentukan mental masyarakat. Gak perlu diragukan, waktu istirahat setelah nyari uang buat makan bagi masyarakat kita digunakan untuk “nonton tipi” selain hal-hal lain. Nah, cekoki saja mereka dengan tayangan penerbit kecemburuan sosial seperti sinetron-sinetron yang ada sekarang, maka yang bakal tercipta adalah mereka menumpuk kekecewaan mendalam kepada “orang kaya”, lalu pemerintah. Udah gitu, tinggal menunggu “kipas” datang, jadi deh revolusi gede-gedean buat menjungkalkan pemerintah. Tentu gak sesederhana itu, tapi “hayalan” gue tersebut juga gak bisa dikatakan mustahil terjadi. Apalagi yang kurang coba? kita punya bejibun provokator handal (mungkin juga dari kalangan mahasiswa sendiri yang masuk kategori “baca buku sepintas trus teriak-teriak dijalan”), masyarakat kita mudah diprovokasi terutama soal “perut, pemerintah masih aja belum meyakinkan dalam mensejahterakan rakyat, media massa hanya memikirkan untung dari produknya, kesempatan korupsi makin lebar dengan banyaknya lembaga yang mengajarkan ilmu praktis yang tak mengindahkan etika moral, dan lain-lain.

Pertanyaan terpenting adalah bagaimana agar hal tersebut gak kejadian?

            Pertama, kita udah punya komisi penyiaran yang bertugas mengawasi apa aja yang diproduksi dan diyangkan di televisi. Nah, kalo kira-kira ada acara yang bertendensi mempengaruhi masyarakat kearah negatif, laporin aja. Tapi jangan lupa sertai dengan bukti kuat dan alasan jelas. Jangan asal cuap (kayak gue kali ye….)

            Kedua, buat mahasiswa (kebetulan gue juga masih mahasiswa) yang sering diagungkan dengan title agent of change, jangan pernah capek menghasilkan pemikiran, tindakan dan karya yang berpihak kepada masyarakat secara nyata, bukan Cuma ngadain seminar di hotel atau gedung kegiatan mahasiswa yang masuknya aja kudu pake tiket. Penting buat dipikirin kalo sekaranglah saat untuk mengabdi, dengan apa yang kita bisa. Jangan pernah tergiur lulus S1 dengan IPK cum laude trus kerja dengan gaji segunung, tapi kampus lo masih berkeliaran pengemis dan anak jalanan (kayak kampus gue). Gak habis pikir deh gue gimana naifnya kita saat Cuma bersemangat mendemo pemerintah, semantara masyarakat lebih mengharapkan tindakan nyata. Contohnya? Tetangga kostan gue, yang sehari-hari jualan bakso, pernah bilang gini “ gak bisa a’, dijalan lagi rame ada mahasiswa demo, jalan jadi macet..” saat gue tanya kenapa gak jualan suatu hari. Gue tahu dia kecewa. Bukannya ngebantu bikin kegiatan berbasis ekonomi yang bisa secara riil meningkatkan kesejahteraan mereka, seperti yang dilakukan kampus tetangga gue. Pikirkan ada berapa banyak lagi tukang bakso lain seperti dia. Jadi, mulailah berpikir “apa yang bisa kita lakukan untuk msyarakat”, bukan “apa yang bisa kita demokan untuk masyarakat”.

            Selanjutnya, boleh aja sedikit bermain kasar dengan pemerintah, tapi gue pikir pakailah cara-cara yang lebih masuk akal. Gak perlu merobohkan pagar kantor pemerintahan kok kalo’ pengen pemerintah bereaksi positif atas tuntutan kita, cukup dengan langkah diplomatis terukur. Seperti apa? Bikin acara temu muka (jika mungkin juga “temu hati”) dengan mereka, kemukakan tuntutan dengan jelas dan sopan, patuhi mufakat yang tercapai lalu lakukan mufakat tersebut. Tunjuk pihak ketiga, bisa LSM kredibel asing dan lain-lain, untuk mengawasi jalannya mufakat dilapangan jika perlu.

            Terakhir, jangan lakukan langkah diatas jika kita hanya berkeinginan untuk sekedar hidup. Gue Cuma iseng nulis buat gue sendiri, yang pengen hidup dengan lebih hidup (mirip iklan ya….). dan gue udah kecewa banget ma temen-temen berlabel aktivis di kampus gue. Tapi jangan tanya apa gue sendiri udah gerak, karena gue Cuma bisa ikut seminar dan pelatihan ini itu sekarang, he he… gak men, becanda. Gue gak bisa ikut mereka, jadi gue gabung ma anak lain yang sepikiran ma gue. Hasilnya ? ada lah, lumayan biar kecil tapi temen-temen kita udah kebantu. Mudah-mudahan kita semua paham, negara ini butuh dewasa dengan manusia yang lahir untuk saling mendewasakan.

26
Jul
07

mungkin dia kamu

Seorang lelaki berdiri di batas pagi, “apa yang kau lakukan semalam ?”. suara yang entah datang dari mana bertanya. Tak kan ada jawaban untuk pertanyaan itu. Lalu, langkah kaki memecah sinar mentari yang baru tinggi. Aku akan pergi denganmu, dengan apa yang kau sisakan.

Dua tahun menyela kehidupan. Terlalu cepat. Lelaki itu, yang sedang memegang pena kelanjutan kisah ini, terlewati pengalaman-pengalaman baru, pengetahuan baru dan usia yang bertambah. Yang masih sama dengan sosok tubuh di pagi itu, dia masih seorang lelaki.

Perempuan mana lagi Gash? Sudut kota mana yang tidak kujelajah hingga kau tak kutemukan. Jangan bersembunyi dibalik senyuman perempuan-perempuan lain!!! Mereka hanya menemuiku untuk sementara, sebelum menutup pintu dan mencegat taksi yang akan meleyapkan tubuh mereka dari hadapanku. Kau tak perlu mencuri wangi parfum yang dipakai pacarku, yang dia pikir akan menyenangkan aku. Tidak mereka bukan kau.

Aku paham siapa mereka. Tubuh-tubuh yang singgah dari kumpulan daging yang menyembunyikan jiwa lain. Bagaimanapun tubuh itu dimanipulasi, selalu terdapat semburat kebenaran yang tak tertutupi. Aku lelah gash. Aku letih membedakannya. Aku berupaya keras, mengumpulkan ingatan baru untuk yakin siapapun yang didekatku bukan kamu. Makin keinginan tersebut kuterjang, kamu dan wangi itu seakan makin melekat. Kau menitipkan senyuman di kulit jiwaku. Aku tahu, bahkan saat api melalap kulitku, kamu akan tetap ada dibagian lain jiwaku. Suatu hari nanti, aku berharap kan datang seseorang yang menghilangkan mu, mengulitiku dengan tuntas. Mungkin dia kamu.

26
Jul
07

Yang kita perlukan…

Seorang anak kecil terlihat berlari dengan terengah-engah menghampiri kakaknya. Dia bertanya tentang sebuah dimensi dalam kehidupan yang terlihat sepele dan disepelekan namun bermakna sangat dalam……… dengan suara lembut dan penuh kasih sayang sangk kakak menjawab…

Kita perlu untuk mengeluh karena ia adalah kunci dari semangat yang baru

Kita perlu untuk menangis, karena ia adalah obat yang manjur bagi kepedihan hati

Kita perlu untuk tertawa, karena ia adalah inti dari kebahagiaan

Kita perlu untuk bertengkar, karena dengannya kita bisa memaknai indahnya kedamaian

Kita perlu untuk marah, karena ia adalah sibgoh dalam kehidupan

Kita perlu untuk malas, supaya kita bisa memaknai arti sebuah kerja keras

Kita perlu untuk takut, supaya kita bisa lebih hati-hati dalam bertindak

Kita perlu untuk berpisah, supaya kita bisa memaknai makna sebuah kebersamaan

Begitulah kehidupan yang penuh dengan dinamika. Banyak ruang kosong dalam kehidupan yang selalu kita sepelekan namun sangat bermakna dalam hidup

Semoga…

Kita mengeluh bukan karena putus asa

Kita menangis bukan karena kita lemah

Kita tertawa bukan karena angkuh

Kita bertengkar bukan karena benci

Kita marah bukan karena nafsu

Kita malas bukan karena bosan

Kita takut bukan karena pengecut

Kita terpisah bukan karena rendah diri dan takabur

Kini ketika kau bergaul, jadilah engkau sesuatu yang sejuk dan menyejukkan

Sesuatu yang damai dan mendamaikan

Sesuatu yang kuat dan menguatkan

Sesuatu yang indah dan mengindahkan

 

Kutipan dari Buletin IMAGE vol 7 Bulan Agustus 2006