Arsip untuk Oktober, 2008

10
Okt
08

22 Juli – 25 Agustus 2008 Part 1

Kisah pendek tentang kebersamaan pendek

Ini kisah pendek tentang kebersamaan yang biarpun sebentar tapi mengesankan, tentang tujuh karakter yang berusaha saling mengerti diantara ruang tersekat-sekat, dan mengenai orang-orang yang sibuk untuk mengkompromikan keegoisannya dengan kebersamaan. Gak ada maksud buat menginterpretasikan sebuah karakter agar terlihat lebih rendah atau lebih tinggi, bukan sama sekali. Gw Cuma menulis, menulis buat gw adalah melukis perjalanan waktu didalam ruang agar waktu didepan sana menjadi lebih berarti.

Tulisan yang baik biasanya akan lebih dulu memperkenalkan karakter tokoh-tokohnya. Tokoh pertama bernama Jajang. Jika kamu melihat intelek-intelek yang gak bisa menerima orang lain ngomong lebih hebat darinya di acara diskusi di televisi, mereka sejenis dengan Jajang. Gw berupaya keras untuk tidak terjebak pada menilai orang hanya dari omongannya, tapi seharusnya dengan lebih dulu tahu latar belakang orang itu. Tapi dengan jajang, gw selalu merasakan darah naik ke ubun-ubun. Jajang tipe orang yang akan selalu membetulkan apapun omongan orang lain yang menurutnya salah.

Sayangnya, upaya pembetulan itu dilakukan dengan kalimat-kalimat provokatif. Jadi, yang ada adalah dahan tambah bengkok tidak membuat lurus. Dari enam orang lainnya, dia paling melek Islam. Beberapa pertanyaan yang seumur hidup gw cari jawabannya gw dapatkan darinya. Lima minggu KKU bareng jajang adalah berkah sekaligus pelajaran untuk tidak harus berada diluar lingkaran jika ingin memperbaiki kesalahan yang ada didalam lingkaran.

Lalu Maria. Dia sedikit dari banyak perempuan yang memiliki nama dengan empat kata yang gw temui. Ssst, teman gw di kampung yang lumayan jago ramal sempat bilang ke gw tahun lalu, gw bakal ketemu orang yang akan bikin dunia gw jungkir balik dan namanya terdiri dari empat kata. Gw harap bukan dia.

Sebagai cowok, yang paling susah untuk dideskripsikan adalah karakter perempuan. Karena itu akan sangat objektif, selalu berat sebelah dan terkesan mengagungkan atau merendahkan mereka. Tapi gw coba untuk maria. C.A, gw biasanya pake singkatan ini kalo mau sms dia, adalah perempuan yang berpikiran sangat praktis (tipikal banyak perempuan), sedikit cuek, perhatian sama lingkungan tempatnya eksis, mampu bekerja tanpa motivasi, dan juga punya pandangan kedepan. Gw gak tahu apa itu saja udah bisa menggambarkan maria tapi emang hanya itu yang bisa gw tulis, selebihnya rasa emang susah ditulis apalagi sama gw yang susah menggambarkan sesuatu. Menurut gw dia cantik, biarpun kata roni enggak. Cuma ada dua orang perempuan di kelompok KKU yang gw suka sebagai teman, maria dan ine. Ngobrol bareng mereka akan bikin wawasan nambah, ilmu nambah, kesabaran ningkat, dan gw belajar banyak tentang apa-apa isi kepala perempuan. Kelemahan maria mungkin dia terlalu ingin semuanya berjalan cepat selesai. Kesan pertama dengan maria adalah dia bisa dengan tenangnya pulang KKU tanpa pamit ke gw yang n.b adalah temannya satu kelompok, yang akan dia temui selama lima minggu KKU. Bukan kesan yang baik buat gw yang punya “penyakit” rada sensi, tapi itu gak bisa jadi ukuran dia kehilangan kecantikannya. Maria gw pikir lebih “Cosmo” dibanding Ine yang secara visual meyakinkan sebagai “cewek Bandung”. Kesimpulan sementara gw, ramalan temen gw tadi salah besar.

Cewek berikutnya di kelompok KKU gw adalah Ratna. Ratna baru aja ditinggal cowok brengsek. Cowok yang memutuskan ikatan cinta dengan cewek dengan alasan fisik si cewek gak lebih baik dari pecundang rasis. Gw nyambung banget kalo ngobrol ma Ratna biarpun sering terhalang bahasa. Ya, ratna tipikal cewek sunda yang berbahasa halus sedang gw Cuma tahu bahasa yang sering gw pake kalo lagi ngomong bareng teman-teman cowok gw. Hal paling mengesankan dari ratna adalah dia mampu melihat cahaya lebih jelas saat berada di kegelapan. Gw terkejut dia pernah pake obat tidur selama beberapa waktu buat ngilangin stressnya. Tapi kemudian bangkit dan pagi gak pernah seindah hari kemarin untuk ratna. Gw juga sering ngobrol tentang kehidupan dengannya. Ilmu yang akan sangat bermanfaat, menentukan langkah gw berikutnya.

nyambungnya ntar…

10
Okt
08

satu orang lagi ? no nroblem!!

Gw kehilangan satu teman lagi. Teman yang pernah sempat gw anggap sahabat. Jims udah sangat bikin gw sakit sama ulahnya, Tika hanya punya keegoisan, gw jg masih bisa maafin Eko, dan Widhi adalah kesalahan besar. Tapi Why ternyata teramat sakit.

Gw bisa ngelakuin apa aja buat sahabat gw, mungkin ini keangkuhan yang gw sering besar2kan. Gak ada yang lebih menyenangkan dari ngelihat sahabat gw happy. Kadang mungkin cara gw malah bikin mereka berpikiran sebaliknya. Gw berusaha keras untuk tidak ngerasa sakit buat Why. Gw bohong gw gak tersakiti. Langkah gw gak kan pernah sama lagi dengan waktu sebelum gw punya masa-masa indah bareng dia. Gw gak nyangka sesakit ini. Bahkan Ramadhan yang penuh maaf, diliputi berkah, terselimuti cahaya, gak juga mampu menenangkan gw. Gw hancur, bergelimpang dalam pikiran sendirian tentang banyak pertanyaan “mengapa”. Gw dah nanya pertanyaan itu ke Why dan hanya kesunyian yang terdengar. Gw dibiarkan sendiri merangkai jawabannya. Gw punya jawabannya, gw terlalu idealis melihat hidup. Hidup gak bisa dilihat dari jendela yang benderang. Terlalu lama dalam kegelapan, sedikit cahaya malah bikin gw sakit kepala.

Tahun ini tahun terburuk dalam hidup gw setelah tahun dimana gw mulai nerima Dhaya memang harus pergi. Ini tahun dimana catatan pertama gw adalah “gw harus bangkit”. Bukankah makin tinggi kemampuan seorang manusia makin berat pula ujian kenaikan tingkat yang harus dilaluinya?

Gw masih belum punya rencana buat bangkit. Tapi gw bisa mulai dengan mendekat kembali pada Allah. Ketidaktenangan gw disebabkan gw jauh dari-Nya. Banyak pelanggaran besar yang gw bikin, hal-hal yang bahkan gak terpikirkan manusia lain. Pekerjaan gw membutuhkan terlalu besar pertanggungjawaban di akherat nanti. Gw gak yakin mampu menjawabnya. Itu hal pertama yang harus gw tinggalkan. Berat memang menjauh dari mereka, gw mungkin bisa mempertimbangkan bahwa gw yang menentukan semuanya jadi kalo gw mau berhenti mereka gak bisa berbuat apa-apa. Gw butuh “dissappear” buat beberapa waktu. Berlebihan? Haha, my real world emang bukan dunia biasa. Bahkan mungkin gak terbayang sama lingkungan gw. Gw juga gak harus membuktikannya. Buat apa membuktikan dunia yang akan membuat orang lain menuding “kamu bohong”. Gw akan menerima jika gw harus jadi salah satu dari penuding itu, dengan imbalan ketenangan jiwa itu harga yang pantas.

Ok, that’s all. Hehe, sebenarnya nulis kayak gini juga sebuah kesalahan. elo-elo pada tahu maksud gw kan ?