Perempuan pertama dan teragung yang pernah gue kenal adalah, tentu saja, ibu gue. Lalu, dua tahun kemudian setelah gue lahir, gue mendapatkan seorang adik perempuan yang menggemaskan, bahkan sampai kini.
Dengan mereka gue belajar gimana memperlakukan perempuan; gak boleh mandi bareng, tidur harus ditempat terpisah dan punya pakaian yang seolah ditakdirkan berbeda. menginjak tujuh tahun gue masuk sekolah dasar yang memiliki lima siswi dari dua puluh delapan siswa/wi. ternyata dikelas VI mereka jadi lebih menggemaskasn dari adik gue. kata ibu, “menggemaskan” teman-teman dikelas karena gue udah beranjak baligh, siap untuk jadi remaja. dan istilah itu berbeda konteksnya, kata ibu gue lagi.
Lulus SD, gue pindah bangku ke SLTP. lagi-lagi persentase perempuannya hanya seperempat dari populasi kelas. itu karena gue ada di SLTP yang mirip STM karena penjurusannya. Gue milih di Bangunan, mungkin kurang menarik buat banyak perempuan. untuk pertama kalinya, gue punya perhatian lebih sama perempuan di tahun kedua. beruntung gue punya seseorang yang bersedia untuk kuberi perhatian lebih. dengannya pula gue belajar anatomi tubuh perempuan.
sayang saling perhatian diantara kami cuma mampu bertahan dua bulan. sekarang dia udah punya anak yang membutuhkan perhatiannya, dengan laki-laki lain.
Di SLTA, pandangan gue tentang perempuan mulai berkembang. awalnya, gue kira mereka hanya akan berakhir menjadi pendamping para lelaki yang setia, seperti nenek gue. ternyata banyak teman laki-laki di sekolah gue yang malah jadi “penjaga” perempuan., gak lebih. ada yang kerjaannya jadi sopir perempuannya, jafdi bodyguard, perpus berjalan, dan jadi dompet pasangannya. tentu gak semua sih yang kayak gitu.
tiga tahun di SMA gak terlalu ngebikin gue mampu nyari perempuan pengganti perempuan gue dulu. gue lebih suka berkelana dari satu lapangan bola ke lapangan bola yang lain. pengecualian ada pada satu perempuan bernama Dhaya.
Dhaya gue kenal dari tetangga sebelah kostan. dia anak ibu kost yang baru gue tahu setelah gue numpang tinggal selama 3 bulan. anaknya keras, bawel, liar dan selalu bisa maksa gue gak latihan di Persibel kalo dia udah ngomong ” vitch, kepantai yuk!!”. Dhaya sangat suka pergi kepantai kalo lagi down. Gue suka kepantai kalo bareng-bareng ma dia. itu definisi pantai bagi kami masing-masing.
setelah perempauan pertama gue dulu, dhaya berubah jadi gak cuma sekadar perempuan. dia mendatangkan inspirasi, meyakinkan gue akan arti idup yang sesunguhnya, dan ngajari gue gimana bisa nahan dir kalo udah duaan ma dia ditempat tidur. sungguh, dhaya bikin gue jadi lelaki sejati tanpa harus menghina diri di depan perempuan. gue sangat marah saat dhaya meninggalkan gue pergi ke Pencipta Pantai tanpa pamit pada gue. bukan karena dia sedang down, tapi karena pantailah yang saat itu mebutuhkan dia.
tapi gue harus melanjutkan hidup. masa SMa yang penuh pengalaman gue tinggalkan di tempat asal. gue ke bandung buat nyari tahu seberapa luas dunia sebenarnya. seperti yang bapak gue lakukan dulu.
tahun pertama, untuk bertahan hidup gue kerja di sebuah rumah makan di jantung kota. gue kambali bertemu perempuan selanjutnya. seorang yang menurut gue cuma bisa menjadikan laki-laki sebagai anjing penjaga. dia sama sekali gak menggemaskan, biarpun dianugerahi tubuh sempurna dengan cara bicara yang mendebarkan. berkali kali gue buat dia menangis, yang membuat gue tahu dia adalah jenis perempuan yang akan dengan mudah membung-buang air mata dengan mudah kalo keinginannya gak bisa terpenuhi laki-laki. lagipula aku masih terobsesi dengan sosok Dhaya. Lalu datanglah perempuan ajaib itu.
senja kemarin: a poetry to gashvi
sempurna bukan kata yang tepat untuknya. sosok perempuan terindah yang pernah kukenal. tapi bidadari tak ditakdirkan bersama dengan manusia. terdapat jurang yang terlampau lebar dijembatani. jurang bernama kebohongan.
aku dan dia dipertemukan nasib pada satu waktu dan tempat. aku percaya, karenanya, nasib adalah kenyataan yang tidak kita harapkan. dia seolah tiba dengan kendaraan cahaya senja. redup dan miste4rius, sejuk namun muram. matanya seakan berkata “selmatkan aku dari malam”. aku terpesona mata itu, sungguh.
butuh dua pekan untuk mendapatkan senyumannya. kali pertama adalah yang paling kuingat hingga saat ini. datang tiba-tiba sebentuk wajah benderang memandangiku dari balik daun jendela. tak sengaja aku menangkapnya. hanya beberapa detik aku tahu pemilik senyum tiu pernah kumiliki. pernah ? yah, aku pun tak yakin dengan kata tersebut. aku merasakan kehangatan yang lama tak mendekapku lau muncul tanpa memberi kesempatan untuk berpikir logis. masa lalu yang hampir terbenam kemudian bangkit. beberapa detik yang benar-benar menarikku kedunia silam.
semua berawal dari sana. aku dan dia makin merapat, sedekat permukaan telaga dengan laba-laba air. ak berjalan diatasnya. kadang pantulan wajahku mengingatkan ini tidak nyata. kadang aku begitu bahagia mengikuti riaknya kemanapun.
hari selanjutnya adalah waktu yang dipenuhi kelembutan sunrise. aku melihat mekar melati dimana-mana; disela jaga siang, diantara langkah terburu, ditiap kedip mata. satu masa yang adalah paling indah dalam hidupku.
bencana datang saat sesosok makhluk hitam dengan jubah tipu muslihat berdiri diantara kami mengipasi kupingku dengan kata-kata wangi namun berduri. tapi aku bergeming, tak apapun yang kan renggut senja dariku. sayang senja bukan aku.
dia ulai tak seindah yang kutahu. jujur jadi variabel yang hilang antara aku dan dia. sempat kupikir, malam hamp[ir tiba. kami jarang berada bersampingan. aku kehilangan senja…
hidup mngajarkan akan ada senja berikutnya. selepas kebekuan subuh, matahari terbit memberi tanda senja selanjutnya akan tiba.
tapi sampai sekarang aku tak pernah sungguh-sungguh kehilangan dia. temaram cahaya keemasannya masih dan akan selalu ada di gubuk rapuh dalam redup juwaku. mata itu masih berkata “selamatkan aku dari malam”.
Senja merah
mengingatkanku pada amarah
pada malam yang menyingkirkan pagi
pada gelap yang menggantikan terang
pada cinta merahmu yang pergi…menghilang…
Salam…